Yogyakarta, 1 Agustus 2025 — Mengawali bulan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia, Universitas Gadjah Mada (UGM) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan PT Putra Perkasa Abadi (PPA), salah satu perusahaan terkemuka di sektor jasa pertambangan nasional. Kesepahaman yang berlaku selama empat tahun ini menjadi tonggak penting dalam upaya memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri untuk menjawab tantangan transformasi sektor pertambangan Indonesia ke arah yang lebih inovatif dan berkelanjutan.
Penandatanganan MoU dilakukan di kampus UGM oleh Presiden Direktur PT PPA, Joko Triraharjo, dan Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., disaksikan oleh jajaran pimpinan direktorat dan unit-unit terkait. Kolaborasi ini menjadi wujud nyata dari komitmen bersama dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui sinergi lintas sektor.


Presiden Direktur PT PPA menyampaikan optimismenya terhadap kemitraan ini. Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi dalam dunia industri—khususnya di bidang pertambangan—masih sangat terbatas. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya menjembatani hasil riset akademik dengan implementasi nyata di lapangan. “Kerja sama ini tidak boleh berhenti di atas kertas. Kita harus bergerak cepat untuk menghadirkan solusi berbasis teknologi yang dikembangkan bersama. Tahun 2028, kami menargetkan transformasi SDM menuju otonomisasi—dari pekerja menjadi pemikir,” ungkapnya. Hal ini sejalan dengan semangat SDG 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur yang mendorong pemanfaatan teknologi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Prof. Wening Udasmoro menyambut baik semangat tersebut dan menekankan pentingnya langkah konkret pasca penandatanganan MoU. Ia menilai Fakultas Teknik UGM siap menjadi garda depan dalam implementasi program kerja sama ini. “Industri dan perguruan tinggi tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Keduanya harus menjadi mitra strategis—industri membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten dan solusi berbasis riset, sementara perguruan tinggi membutuhkan ruang praktik dan kolaborasi untuk menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan nasional,” jelasnya. Hal ini turut mendukung SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh melalui penguatan tata kelola kolaboratif yang saling menguntungkan.
Sebagai perguruan tinggi terbaik di Asia Tenggara dalam kategori Sustainability, UGM dinilai sebagai mitra strategis bagi PT PPA. Dengan lebih dari 65 skema sertifikasi profesi melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), program studi yang beragam, serta kehadiran program magister Metalurgi yang akan segera diperluas ke jenjang sarjana, UGM menunjukkan kapasitas akademik dan inovatif yang mumpuni. Munculnya para guru besar muda juga menjadi modal penting dalam mewujudkan kerja sama yang berkelanjutan. Inisiatif ini juga berkontribusi pada pencapaian SDG 4: Pendidikan Berkualitas, melalui penguatan kapasitas institusi pendidikan tinggi dalam mencetak sumber daya manusia unggul yang siap menjawab kebutuhan industri nasional.
Melalui sinergi ini, UGM dan PT PPA meneguhkan langkah untuk tidak hanya mencetak inovasi, tetapi juga memastikan manfaatnya dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat luas dan menjadi kontribusi strategis bagi kemajuan bangsa.
Penulis: Jemy Partianto | Foto: Angga Kurniajati | Editor: Johan S.M.A.
