Yogyakarta, 13 Agustus 2025 — Ribuan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) memadati Grha Sabha Pramana (GSP) untuk mengikuti acara Smart Financial Day 2025, hasil kolaborasi antara UGM dan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Peringatan Top Agent Awards (TAA) AAJI ke-38, dan menjadi bentuk nyata implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Dengan mengusung tema “Menghindari Budaya FOMO dalam Keuangan dengan Pendekatan YOLO yang Sehat dan Terencana”, acara ini dikemas dalam bentuk kuliah umum yang menghadirkan narasumber dari industri keuangan dan tokoh publik yang dekat dengan generasi muda. Daya tarik utama datang dari komika ternama, Raditya Dika, yang berbagi pengalamannya dalam mengelola keuangan pribadi. Antusiasme peserta begitu tinggi hingga panitia membatasi kuota pendaftaran hanya untuk 2.500 orang.
Dalam sambutannya, Prof. Wiratni, Sekretaris Direktorat Kemitraan dan Relasi Global UGM, menekankan pentingnya membangun kebiasaan finansial yang sehat di kalangan mahasiswa. “Kami berharap peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga panduan praktis dalam mengelola keuangan secara bijak. Mahasiswa perlu memiliki rencana keuangan yang matang agar terhindar dari gaya hidup konsumtif yang merugikan,” ujarnya.

Literasi keuangan seperti ini menjadi bagian penting dari upaya mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas, dengan menanamkan pemahaman ekonomi yang aplikatif, kontekstual, dan relevan dengan dinamika kehidupan generasi muda saat ini.
Fauzi Arfan, Ketua Bidang Produk, Manajemen Risiko & GCG AAJI, menyampaikan bahwa kegiatan ini sejalan dengan misi AAJI dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan, khususnya di sektor asuransi. “Kami aktif menghadirkan konten edukatif di berbagai kanal media sosial, agar generasi muda dapat memahami perencanaan keuangan secara utuh dan menyenangkan,” tuturnya.
Sementara itu, Eko Yunianto, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Yogyakarta, menyoroti fenomena sosial yang berkembang di kalangan generasi muda, seperti FOMO (Fear of Missing Out), YOLO (You Only Live Once), dan FOPO (Fear of Other People’s Opinions). Menurutnya, ketiga gaya hidup ini jika tidak dikendalikan berpotensi mengganggu stabilitas keuangan pribadi dan kesehatan mental generasi muda. Oleh karena itu, literasi keuangan menjadi penting sebagai benteng dari keputusan-keputusan finansial impulsif.
Tiga pembicara utama tampil membagikan panduan praktis:
- Karin Zulkarnain (Kepala Departemen Komunikasi AAJI): “Cara Menghindari Budaya FOMO dalam Keuangan”
- Atria Rai (AXA Mandiri): “Belanja Bijak di Era Digital: Antara Kebutuhan atau Keinginan”
- Raditya Dika (Penulis & Komika): “Financial Freedom: Impian atau Tujuan Nyata?”
Materi-materi tersebut memberikan wawasan nyata dan membumi, serta menggugah kesadaran peserta tentang pentingnya manajemen keuangan yang sehat. Hal ini selaras dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, terutama dalam menyiapkan generasi muda yang produktif secara ekonomi dan memiliki literasi finansial yang kuat sejak dini.

UGM dan AAJI berharap acara ini tidak hanya menjadi perayaan seremonial, tetapi momentum strategis untuk mendorong transformasi pola pikir finansial di kalangan generasi muda. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang risiko dan perencanaan, mahasiswa diharapkan menjadi agen perubahan yang mampu membuat keputusan keuangan cerdas untuk masa depan.
Kegiatan ini juga memperkuat ekosistem literasi keuangan nasional, mendorong partisipasi aktif industri asuransi dalam edukasi publik, dan menunjukkan bahwa kolaborasi lintas sektor dapat menciptakan dampak sosial yang nyata dan berkelanjutan.
Penulis: Jemy Partianto
Fotografer: Angga Kurniajati
Editor: Johan S.M.A.