Yogyakarta, 11 Agustus 2025 — Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) memperpanjang Nota Kesepahaman (MoU) selama empat tahun ke depan untuk memperkuat ketahanan digital nasional. Perpanjangan ini menandai kelanjutan kerja sama strategis antara institusi pendidikan dan lembaga negara dalam memperkuat keamanan siber melalui pendidikan, riset, dan inovasi teknologi.
Delegasi BSSN dipimpin oleh Sekretaris Utama, Y.B. Susilo Wibowo, S.E., M.M., dan diterima oleh Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., serta Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi, Arief Setiawan Budi Nugroho, S.T., M.Eng., Ph.D. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Dekan Fakultas MIPA, Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si., serta pimpinan direktorat dan unit terkait lainnya. Kolaborasi ini merupakan wujud nyata dari SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, di mana sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi menjadi kunci penguatan ekosistem nasional.

Susilo memaparkan di tengah percepatan transformasi digital, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul dan adaptif. UGM, sebagai institusi pendidikan terdepan, menjadi mitra penting dalam menyediakan tenaga ahli, inovasi teknologi, serta riset yang mendukung sistem pertahanan digital nasional. Kolaborasi ini tidak hanya memperkuat kedaulatan digital, tetapi juga mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan teknologi keamanan siber yang andal dan mandiri.
Ancaman siber semakin kompleks, mulai dari pemanfaatan kecerdasan buatan dalam serangan otomatis, manipulasi informasi, hingga potensi runtuhnya sistem kriptografi akibat komputasi kuantum. Oleh karena itu, transisi ke post-quantum cryptography menjadi mendesak dan membutuhkan kolaborasi erat antara akademisi dan praktisi — mencerminkan urgensi penguatan infrastruktur pertahanan digital berbasis pengetahuan.
Kerja sama ini mencakup tujuh ruang lingkup utama, mulai dari penyelenggaraan pendidikan, pelatihan, riset bersama, hingga fasilitasi konferensi internasional seperti International Conference on Cryptography, Informatics, and Cybersecurity (ICoCICs) 2025. Program ini akan memperluas akses terhadap pendidikan berkualitas, sekaligus memperkuat kapasitas tenaga pengajar dan mahasiswa untuk mendalami teknologi keamanan siber dan kriptografi. Langkah ini mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas, terutama dalam mengembangkan kompetensi di bidang-bidang strategis yang dibutuhkan di era digital.
Fakultas dan unit-unit UGM yang terlibat meliputi FISIPOL, Direktorat Teknologi Informasi (DTI), dan FMIPA. FMIPA, yang memiliki jurusan Ilmu Komputer, telah lama mengembangkan riset di bidang kriptografi, blockchain, dan pelatihan keamanan siber, serta terbiasa bermitra dengan berbagai sektor, termasuk industri perbankan yang membutuhkan proteksi digital.
Selain program akademik jenjang S1 hingga S3, kerja sama ini juga akan memperkuat ekosistem pelatihan non-gelar dan program magang di BSSN. Ini merupakan bentuk nyata keterlibatan perguruan tinggi dalam menyiapkan SDM yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga tangguh dan berintegritas.
UGM menekankan pentingnya pendekatan multi-sektor dalam keamanan siber. Kolaborasi lintas sektor antara penyelenggara negara, akademisi, industri, dan komunitas merupakan dasar dalam membangun sistem keamanan nasional yang kuat, transparan, dan akuntabel. Hal ini menjadi kontribusi UGM dan BSSN dalam mendukung SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh.
Dr. Danang menyampaikan bahwa insiden siber bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga berkaitan erat dengan geopolitik, integritas data, dan kedaulatan digital. Ia menekankan pentingnya penguatan teknologi kriptografi serta riset yang mendukung keamanan siber, dan mendorong adanya program magang bagi dosen dan mahasiswa untuk ikut serta memecahkan permasalahan aktual di lapangan.
UGM dan BSSN sepakat bahwa nota kesepahaman ini tidak boleh berhenti pada tataran dokumen simbolis. Implementasi konkret melalui program-program terukur menjadi hal yang ditekankan oleh kedua belah pihak. Penyelenggaraan konferensi ICoCICs 2025 diharapkan menjadi awal dari kolaborasi yang lebih erat dan berkelanjutan.
Kolaborasi strategis ini diharapkan dapat mencetak generasi baru yang tangguh, inovatif, dan siap menjawab tantangan era digital — sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta pertahanan siber global dengan mengedepankan prinsip inklusivitas, keberlanjutan, dan kolaborasi lintas sektor.
Penulis: Jemy Partianto, Fotografer: Angga Kurniajati, Editor: Johan S.M.A.
