Yogyakarta, 10 Agustus 2026 – Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (Kementerian ESDM RI) memperkuat kolaborasi untuk mendukung percepatan pengembangan energi nasional, khususnya energi baru dan terbarukan serta energi nuklir. Penguatan kerja sama ini menjadi bagian dari upaya mendorong transisi energi sekaligus membangun ketahanan energi Indonesia melalui dukungan riset, kajian multidisiplin, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM).
Hal tersebut mengemuka dalam kunjungan Wakil Menteri ESDM RI, Yuliot Tanjung, ke UGM, Senin (10/8). Wamen ESDM didampingi Direktur Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Senda Hurmuzan Kanam, dan Kepala Badan Geologi, Lana Saria. Delegasi diterima di Ruang Tamu Rektor UGM oleh Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UGM, Prof. Ir. Tumiran, M.Eng., Ph.D., IPU., dan Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi, Arief Setiawan Budi Nugroho, S.T., M.Eng., Ph.D., bersama pimpinan Fakultas Teknik, Fakultas MIPA, Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, serta unit terkait.
Yuliot menyampaikan bahwa percepatan pengembangan energi nasional membutuhkan dukungan kajian yang komprehensif, mulai dari aspek geologi, lingkungan, teknologi, hingga regulasi. Kajian geologi, misalnya, menjadi salah satu fondasi penting sebelum pembangunan infrastruktur energi berskala besar seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) maupun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
Menurutnya, Indonesia juga perlu mengakselerasi pemanfaatan potensi energi baru dan terbarukan yang masih sangat besar, termasuk panas bumi. Di saat yang sama, pengembangan energi nuklir mulai dipersiapkan sebagai salah satu alternatif untuk memperkuat kapasitas dan keandalan pasokan listrik nasional.
“Optimalisasi potensi geothermal serta sosialisasi kepada masyarakat mengenai teknologi nuklir yang aman dan efisien menjadi penting,” ujar Yuliot.
Pengembangan sumber energi tersebut perlu mempertimbangkan karakteristik dan kebutuhan masing-masing wilayah. Aspek ketersediaan lahan, kepadatan permukiman, kondisi geologi, kebutuhan energi, hingga potensi risiko bencana harus menjadi bagian dari kajian sebelum suatu teknologi diterapkan. Pendekatan berbasis sains tersebut diharapkan dapat mendukung penyediaan energi yang andal, aman, dan semakin berkelanjutan (SDG 7: Energi Bersih dan Terjangkau), sekaligus memperkuat pembangunan infrastruktur dan inovasi teknologi nasional (SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur).
Ketua MWA UGM, Prof. Tumiran, menyoroti eratnya hubungan antara ketersediaan energi, industrialisasi, dan pertumbuhan ekonomi. Konsumsi energi Indonesia yang masih relatif rendah dibandingkan sejumlah negara ASEAN menunjukkan pentingnya peningkatan akses sekaligus kualitas penyediaan energi untuk mendukung aktivitas ekonomi.
Menurut Tumiran, listrik tidak semata-mata menjadi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga instrumen pembangunan yang dapat menggerakkan industri dan membuka aktivitas ekonomi baru, termasuk di daerah terpencil. Karena itu, pengembangan infrastruktur energi perlu berjalan beriringan dengan investasi pada pendidikan dan peningkatan kapasitas generasi muda.
“Penting adanya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan industri untuk mencapai ketahanan energi dan ekonomi yang lebih baik,” ujar Tumiran.
Kolaborasi tersebut juga diperlukan dalam mempersiapkan sumber daya manusia untuk pengembangan energi nuklir. Kepala Program Studi Teknik Nuklir UGM, Dr.Ing. Ir. Kusnanto, menekankan pentingnya percepatan program pendidikan dan pelatihan pada berbagai jenjang untuk mempersiapkan kompetensi yang diperlukan apabila PLTN mulai dikembangkan di Indonesia.
Menurutnya, aspek keselamatan harus menjadi prioritas, termasuk kesiapan teknologi, pengelolaan limbah radioaktif, serta komunikasi risiko kepada masyarakat. Pengembangan energi nuklir karenanya tidak cukup hanya dilihat dari kesiapan teknologi, tetapi juga membutuhkan transparansi, edukasi publik, dan pelibatan masyarakat sejak tahap awal untuk membangun pemahaman dan kepercayaan.

Aspek keselamatan tersebut turut diperkuat melalui dukungan kajian geologi. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menekankan pentingnya ketersediaan data yang komprehensif untuk mengidentifikasi karakteristik geologi dan berbagai potensi risiko pada lokasi pengembangan infrastruktur energi. Kajian tersebut menjadi dasar dalam menentukan kelayakan lokasi serta kebutuhan rekayasa teknologi untuk memastikan keamanan infrastruktur dalam jangka panjang.
Pengembangan energi bersih juga memiliki dimensi yang lebih luas dalam agenda pembangunan berkelanjutan. Peningkatan pemanfaatan energi terbarukan dan pengembangan teknologi energi rendah karbon dapat mendukung upaya pengurangan emisi dan mitigasi perubahan iklim (SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim). Pada saat yang sama, peningkatan kapasitas tenaga ahli melalui pendidikan, riset, dan pelatihan memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam menyediakan sumber daya manusia yang kompeten untuk mendukung transformasi sektor energi (SDG 4: Pendidikan Berkualitas).
Pertemuan ini sekaligus membuka peluang perluasan kerja sama UGM dan Kementerian ESDM. Kolaborasi yang selama ini telah berjalan dalam bidang geologi dan mitigasi bencana akan dikembangkan lebih luas pada bidang energi baru, energi terbarukan dan konservasi energi; mineral, batubara, dan pengelolaan data; serta pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.
Melalui sinergi pemerintah dan perguruan tinggi tersebut (SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), UGM dan Kementerian ESDM diharapkan dapat mempertemukan kebutuhan kebijakan dengan kapasitas riset dan keilmuan untuk mempercepat lahirnya solusi energi yang aman, terjangkau, rendah karbon, dan sesuai dengan karakteristik Indonesia. Kolaborasi ini menjadi bagian dari langkah bersama menuju ketahanan energi nasional sekaligus mendukung transformasi ekonomi Indonesia yang lebih berkelanjutan.

(Penulis: Jemy Partianto, Editor: Johan S.M.A, Fotografer: Fadel Gama Putra)